Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Sejarah IMM Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah

Sejarah IMM Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah



Faktor Kelahiran IMM
Kelahiran IMM tidak lepas kaitannya dengan
sejarah perjalanan Muhammadiyah, dan juga bisa dianggap sejalan dengan
faktor kelahiran Muhammadiyah itu sendiri. Hal ini berarti bahwa setiap
hal yang dilakukan Muhammadiyah merupakan perwujudan dari keinginan
Muhammadiyah untuk memenuhi cita-cita sesuai dengan kehendak
Muhammadiyah dilahirkan.
Di samping itu, kelahiran IMM juga merupakan
respon atas persoalan-persoalan keummatan dalam sejarah bangsa ini pada
awal kelahiran IMM, sehingga kehadiran IMM sebenarnya merupakan sebuah
keharusan sejarah. Faktor-faktor problematis dalam persoalan keummatan
itu antara lain ialah sebagai berikut (Farid Fathoni, 1990: 102) :


  1. Situasi kehidupan bangsa yang tidak stabil,
    pemerintahan yang otoriter dan serba tunggal, serta adanya ancaman
    komunisme di Indonesia.

  2. Terpecah-belahnya umat Islam dalam bentuk saling curiga dan fitnah, serta kehidupan politik ummat Islam yang semakin buruk.

  3. Terbingkai-bingkainya kehidupan kampus (mahasiswa) yang berorientasi pada kepentingan politik praktis.

  4. Melemahnya kehidupan beragama dalam bentuk merosotnya akhlak, dan semakin tumbuhnya materialisme-individualisme.

  5. Sedikitnya pembinaan dan pendidikan agama dalam kampus, serta masih kuatnya suasana kehidupan kampus yang sekuler.

  6. Masih membekasnya ketertindasan imperialisme penjajahan dalam bentuk keterbelakangan, kebodohan, dan kemiskinan.

  7. Masih banyaknya praktek-praktek kehidupan
    yang serba bid’ah, khurafat, bahkan ke-syirik-an, serta semakin
    meningkatnya misionaris-Kristenisasi.

  8. Kehidupan ekonomi, sosial, dan politik yang semakin memburuk.


Gagasan Awal Kelahiran IMM
Dengan latar belakang tersebut, sesungguhnya
semangat untuk mewadahi dan membina mahasiswa dari kalangan Muhammadiyah
telah dimulai sejak lama. Semangat tersebut sebenarnya telah tumbuh
dengan adanya keinginan untuk mendirikan perguruan tinggi Muhammadiyah
pada Kongres Seperempat Abad Muhammadiyah di Betawi Jakarta pada tahun
1936. Pada saat itu, Pimpinan Pusat Muhammadiyah diketuai oleh KH.
Hisyam (periode 1934-1937). Keinginan tersebut sangat logis dan
realistis, karena keluarga besar Muhammadiyah
semakin banyak dengan putera-puterinya yang sedang dalam penyelesaian
pendidikan menengahnya. Di samping itu, Muhammadiyah juga sudah banyak
memiliki amal usaha pendidikan tingkat menengah.
Gagasan pembinaan kader di lingkungan maha-siswa
dalam bentuk penghimpunan dan pembinaan langsung adalah selaras dengan
kehendak pendiri Muhammadiyah, KHA. Dahlan, yang berpesan bahwa ”dari
kalian nanti akan ada yang jadi dokter, meester, insinyur, tetapi
kembalilah kepada Muhammadiyah” (Suara Muhammadiyah, nomor 6 tahun
ke-68, Maret II 1988, halaman 19). Dengan demikian, sejak awal
Muhammadiyah sudah memikirkan bahwa kader-kader muda yang profesional
harus memiliki dasar keislaman yang tangguh dengan kembali ke
Muhammadiyah.
Namun demikian, gagasan untuk menghimpun dan
membina mahasiswa di lingkungan Muhammadiyah cenderung terabaikan,
lantaran Muhammadiyah sendiri belum memiliki perguruan tinggi. Belum
mendesaknya pembentukan wadah kader di lingkungan mahasiswa Muhammadiyah
saat itu juga karena saat itu jumlah mahasiswa yang ada di lingkungan
Muhammadiyah belum terlalu banyak. Dengan demikian, pembinaan kader
mahasiswa Muhammadiyah dilakukan melalui wadah Pemuda Muhammadiyah
(1932) untuk mahasiswa putera dan melalui Nasyi’atul Aisyiyah (1931)
untuk mahasiswa puteri.

Pada Muktamar Muhammadiyah ke-31 pada tahun 1950
di Yogyakarta, dihembuskan kembali keinginan untuk mendirikan perguruan
tinggi Muhammadiyah. Namun karena berbagai macam hal, keinginan tersebut
belum bisa diwujudkan, sehingga gagasan untuk dapat secara langsung
membina dan menghimpun para mahasiswa dari kalangan Muhammadiyah tidak
berhasil. Dengan demikian, keinginan untuk membentuk wadah bagi
mahasiswa Muhammadiyah juga masih jauh dari kenyataan.

Pada Muktamar Muhammadiyah ke-33 tahun 1956 di
Palembang, gagasan pendirian perguruan tinggi Muhammadiyah baru bisa
direalisasikan. Namun gagasan untuk mewadahi mahasiswa Muhammadiyah
dalam satu himpunan belum bisa diwujudkan.
Untuk mewadahi pembinaan terhadap mahasiswa dari
kalangan Muhammadiyah, maka Muhammadiyah membentuk Badan Pendidikan
Kader (BPK) yang dalam menjalankan aktivitasnya bekerja sama dengan
Pemuda Muhammadiyah.
Gagasan untuk mewadahi mahasiswa dari ka-langan
Muhammadiyah dalam satu himpunan setidaknya telah menjadi polemik di
lingkungan Muhammadiyah sejak lama.
Perdebatan seputar kelahiran Ikatan Mahasiswa
Muhammadiyah berlangsung cukup sengit, baik di kalangan Muhammadiyah
sendiri maupun di kalangan gerakan mahasiswa yang lain. Setidaknya,
kelahiran IMM sebagai wadah bagi mahasiswa Muhammadiyah mendapatkan
resistensi, baik dari kalangan Muhammadiyah sendiri maupun dari kalangan
gerakan mahasiswa yang lain, terutama Himpunan Mahasiswa Islam (HMI).
Di kalangan Muhammadiyah sendiri pada awal munculnya gagasan pendirian
IMM terdapat anggapan bahwa IMM belum dibutuhkan kehadirannya dalam
Muhammadiyah, karena Pemuda Muhammadiyah dan Nasyi’atul Aisyiyah masih
dianggap cukup mampu untuk mewadahi mahasiswa dari kalangan
Muhammadiyah.

Kedekatan HMI dan Muhammadiyah
Di samping itu, resistensi terhadap ide kelahiran
IMM pada awalnya juga disebabkan adanya hubungan dekat yang tidak
kentara antara Muhammadiyah dengan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI).
Hubungan dekat itu dapat dilihat ketika Lafrane Pane mau menjajagi
pendirian HMI. Dia bertukar pikiran dengan Prof. Abdul Kahar Mudzakir
(tokoh Muhammadiyah), dan beliau setuju. Pendiri HMI yang lain ialah
Maisarah Hilal (cucu KHA. Dahlan) yang juga seorang aktifis di
Nasyi’atul Aisyiyah.

Bila asumsi itu benar adanya, maka hubungan dekat
itu selanjutnya sangat mempengaruhi perjalanan IMM, karena dengan
demikian  Muhammadiyah saat itu beranggapan bahwa pembinaan dan
pengkaderan mahasiswa Muhammadiyah bisa ditipkan melalui HMI (Farid
Fathoni, 1990: 94). Pengaruh hubungan dekat tersebut sangat besar bagi
kelahiran IMM. Hal ini bisa dilihat dari perdebatan tentang kelahiran
IMM. Pimpinan Muhammadiyah di tingkat lokal seringkali menganggap bahwa
kelahiran IMM saat itu tidak diperlukan, karena sudah terwadahi dalam
Pemuda Muhammadiyah dan Nasyi’atul Aisyiyah, serta HMI yang sudah cukup
eksis (dan mempunyai pandangan ideologis yang sama). Pimpinan
Muhammadiyah pada saat itu lebih menganakemaskan HMI daripada IMM. Hal
ini terlihat jelas dengan banyaknya pimpinan Muhammadiyah, baik secara
pribadi maupun kelembagaan, yang memberikan dukungan pada aktivitas HMI.
Di kalangan Pemuda Muhammadiyah juga terjadi perdebatan yang cukup
sengit seputar kelahiran IMM. Perdebatan seputar kelahiran IMM tersebut
cukup beralasan, karena sebagian pimpinan (baik di Muhammadiyah, Pemuda
Muhammadiyah, Nasyi’atul Aisyiyah, serta amal-amal usaha Muhammadiyah)
adalah kader-kader yang dibesarkan di HMI.

Setelah mengalami polemik yang cukup serius
tentang gagasan untuk mendirikan IMM, maka pada tahun 1956 polemik
tersebut mulai mengalami pengendapan. Tahun 1956 bisa disebut sebagai
tahap awal bagi embrio operasional pendirian IMM dalam bentuk pemenuhan
gagasan penghimpun wadah mahasiswa di lingkungan Muhammadiyah (Farid
Fathoni, 1990: 98). Pertama, pada tahun itu (1956) Muhammadiyah secara
formal membentuk kader terlembaga (yaitu BPK). Kedua, Muhammadiyah pada
tahun itu telah
bertekad untuk kembali pada identitasnya sebagai
gerakan Islam dakwah amar ma’ruf nahi munkar (tiga tahun sesudahnya,
1959, dikukuhkan dengan melepas-kan diri dari komitmen politik dengan
Masyumi, yang berarti bahwa Muhammadiyah tidak harus mengakui bahwa
satu-satunya organisasi mahasiswa Islam di Indonesia adalah HMI).
Ketiga, perguruan tinggi Muhammadiyah telah banyak didirikan. Keempat,
keputusan Muktamar Muhammadiyah bersamaan Pemuda Muhammadiyah tahun 1956
di Palembang tentang
”..... menghimpun pelajar dan mahasiswa
Muhammadiyah agar kelak menjadi pemuda Muhammadiyah atau warga
Muhammadiyah yang mampu mengembangkan amanah.” Baru pada tahun 1961
(menjelang Muktamar Muhammadiyah Setengah Abad di Jakarta)
diselenggarakan Kongres Mahasiswa Universitas Muhammadiyah di Yogyakarta
(saat itu, Muhammadiyah sudah mempunyai perguruan tinggi Muhammadiyah
sebelas buah yang tersebar di berbagai kota). Pada saat itulah, gagasan
untuk mendirikan IMM digulirkan sekuat-kuatnya. Keinginan tersebut
ternyata tidak hanya dari mahasiswa Universitas Muhammadiyah, tetapi
juga dari kalangan mahasiswa di berbagai universitas non-Muhammadiyah.
Keinginan kuat tersebut tercermin dari tindakan para tokoh Pemuda
Muhammadiyah untuk melepaskan Departemen
Kemahasiswaan di lingkungan Pemuda Muhammadiyah untuk berdiri sendiri.
Oleh karena itu, lahirlah Lembaga Dakwah Muhammadiyah yang
dikoordinasikan oleh Margono (UGM, Ir.), Sudibyo Markus (UGM, dr.),
Rosyad Saleh (IAIN, Drs.), sedangkan ide pembentukannya dari Djazman
al-Kindi (UGM, Drs.).

Kelahiran IMM dan Enam Penegasan IMM
Tahun 1963 dilakukan penjajagan untuk mendirikan
wadah mahasiswa Muhammadiyah secara resmi oleh Lembaga Dakwah
Muhammadiyah dengan disponsori oleh Djasman al-Kindi yang saat itu
menjabat sebagai Sekretaris Pimpinan Pusat Pemuda
Muhammadiyah. Dengan demikian, Lembaga Dakwah
Muhammadiyah (yang banyak dimotori oleh para mahasiswa Yogyakarta)
inilah yang menjadi embrio lahirnya IMM dengan terbentuknya IMM Lokal
Yogyakarta. Tiga bulan setelah penjajagan tersebut, Pimpinan Pusat
Muhammadiyah meresmikan berdirinya Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM)
pada tanggal 29 Syawal 1384 Hijriyah atau 14 Maret 1964 Miladiyah.
Penandatanganan Piagam Pendirian Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah dilakukan
oleh Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah saat itu, yaitu KHA. Badawi.
Resepsi peresmian IMM dilaksanakan di Gedung Dinoto Yogyakarta dengan
penandatanganan ‘Enam Penegasan IMM’ oleh KH. A. Badawi, yaitu :


  1. Menegaskan bahwa IMM adalah gerakan mahasiswa Islam.

  2. Menegaskan bahwa Kepribadian Muhammadiyah adalah landasan perjuangan IMM.

  3. Menegaskan bahwa fungsi IMM adalah eksponen mahasiswa dalam Muhammadiyah.

  4. Menegaskan bahwa IMM adalah organisasi
    maha-siswa yang sah dengan mengindahkan segala hukum, undang-undang,
    peraturan, serta dasar dan falsafah negara.

  5. Menegaskan bahwa ilmu adalah amaliah dan amal adalah ilmiah.

  6. Menegaskan bahwa amal IMM adalah lillahi ta’ala dan senantiasa diabdikan untuk kepentingan rakyat.


Tujuan Kelahiran IMM
Tujuan akhir kehadiran Ikatan Mahasiswa
Muhammadiyah untuk pertama kalinya ialah membentuk akademisi Islam dalam
rangka melaksanakan tujuan Muhammadiyah. Sedangkan aktifitas IMM pada
awal kehadirannya yang paling menonjol ialah kegiatan keagamaan dan
pengkaderan, sehingga seringkali IMM pada awal kelahirannya disebut
sebagai Kelompok Pengajian Mahasiswa Yogya (Farid Fathoni, 1990: 102).
Adapun maksud didirikannya Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah antara lain
adalah sebagai berikut :


  1. Turut memelihara martabat dan membela kejayaan bangsa.

  2. Menegakkan dan menjunjung tinggi agama Islam.

  3. Sebagai upaya menopang, melangsungkan, dan meneruskan cita-cita pendirian Muhammadiyah.

  4. Sebagai pelopor, pelangsung, dan penyempurna amal usaha Muhammadiyah.

  5. Membina, meningkatkan, dan memadukan iman dan ilmu serta amal dalam kehidupan bangsa, ummat, dan persyarikatan.


Munas IMM Pertama
Dengan berdirinya IMM Lokal Yogyakarta, maka
berdiri pulalah IMM lokal di beberapa kota lain di Indonesia, seperti di
Bandung, Jember, Surakarta, Jakarta, Medan, Padang, Tuban, Sukabumi,
Banjarmasin, dan lain-lain. Dengan demikian, mengingat semakin besarnya
arus perkembangan IMM di hampir seluruh kota-kota universitas, maka
dipandang perlu untuk meningkatkan IMM dari organisasi di tingkat lokal
menjadi organisasi yang berskala nasional dan mempunyai struktur
vertikal. Atas prakarsa Pimpinan IMM Yogyakarta, maka bersamaan dengan
Musyawarah IMM se-Daerah Yogyakarta pada tanggal 11 – 13 Desember 1964
diselenggarakan
Musyawarah Nasional Pendahuluan IMM seluruh
Indonesia yang dihadiri oleh hampir seluruh Pimpinan IMM Lokal dari
berbagai kota. Musyawarah Nasional tersebut bertujuan untuk
mempersiapkan kemungkinan diselenggarakannya Musyawarah Nasional Pertama
Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah pada bulan April
atau Mei 1965. Musyawarah Nasional Pendahuluan tersebut menyepakati
penunjukan Pimpinan IMM Yogyakarta sebagai Dewan Pimpinan Pusat
Sementara IMM (dengan Djazman al-Kindi sebagai Ketua dan Rosyad Saleh
sebagai Sekretaris) sampai diselenggarakannya Musyawarah Nasional
Pertama di Solo. Dalam Musyawarah Pendahuluan tersebut juga disahkan
asas IMM yang tersusun dalam ‘Enam Penegasan IMM’, Anggaran Dasar dan
Anggaran Rumah Tangga IMM, Gerak Arah IMM, serta berbagai konsep
lainnya, termasuk lambang IMM, rancangan kerja, bentuk kegiatan, dan
lain-lain.



http://immsetengahabad.xyz/web/keimman/sejarah



NILAI DASAR IKATAN




Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah sebagai gerakan
kader, mendasarkan diri pada semangat ijtihadiyah (intelektualitas) dan
dakwah Islam amar ma’ruf nahi mungkar yang telah menjadi nafas
Muhammadiyah sebagai gerakan yang mendorong tujuan Muhammadiyah yakni
menegakkan dan menjunjung tinggi agama Islam sehingga terwujud
masyarakat Islam yang sebenar-benarnya, maka Ikatan Mahasiswa
Muhammadiyah mendasarkan diri pada nilai-nilai yang menjadi dasar
geraknya. Nilai-nilai yang menjadi dasar geraknya ini dinamakan Nilai
Dasar Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah. Keseluruhan nilai-nilai dasar
tersebut merupakan satu kesatuan prinsip yang saling mendukung bagi
proses gerakan menuju cita-cita gerakan.

Nilai dasar tersebut terdiri dari 5 (lima) butir sebagai berikut:


  1. Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah adalah gerakan
    mahasiswa yang bergerak di tiga bidang gerakan, yaitu : keagamaan,
    kemahasiswaan dan kemasyarakatan.

  2. Segala bentuk gerakan Ikatan Mahasiswa
    Muhammadiyah tetap berlandaskan pada agama Islam yang hanif dan
    berkarakter rahmat bagi sekalian alam (rahmatan lil‘alamin).

  3. Segala bentuk ketidakadilan,
    kesewenang-wenangan dan kemungkaran adalan lawan besar gerakan Ikatan
    Mahasiswa Muhammadiyah, dan perlawanan terhadapnya adalah kewajiban bagi
    setiap kader Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah.

  4. Sebagai gerakan mahasiswa yang berdasarkan
    Islam dan beranggotakan individuindividu mukmin, maka kesadaran
    melaksanakan syari’at Islam adalah suatu kewajiban dan sekaligus
    mempunyai tanggung jawab untuk mendakwahkan kebenaran ditengah
    masyarakat.

  5. Kader Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah adalah
    kader inti sel masyarakat utama, yang selalu menyebarkan cita-cita
    kemerdekaan, kemuliaan dan kemaslahatan masyarakat, sesuai dengan
    semangat pembebasan dan pencerahan yang dilakukan Nabiyullah Muhammad
    SAW.


Kelima nilai dasar tersebut memiliki fungsi
memperkuat landasan perjuangan Ikatan dan sekaligus menjadi kekuatan
dinamis mengubah kondisi sosial yang absolut dan otoriter menuju ruang
sosial yang hanif, ilmiah, dinamis dan demokratis. Di samping itu, Nilai
Dasar Ikatan akan menjadi cermin identitas gerakan ditengah masyarakat
yang plural dan menjadi koridor bagi tindakan sosial yang ditempuhnya.
Penjelasan :

Butir 1 berbunyi “Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah adalah gerakan mahasiswayang bergerak di tiga bidang gerakan, yaitu : keagamaan, kemahasiswaan dan kemasyarakatan”.

Bidang yang menjadi fokus gerak Ikatan adalah
bidang keagamaan, kemahasiswaan dan kemasyarakatan. Bidang keagamaan
adalah sesuatu yang melekat sebagai wilayah perjuangan Ikatan,
disebabkan fondasi sosial tidak akan terbentuk dengan baik, tanpa
pengembangan prinsip-prinsip keagamaan (religious principles).
Prinsip-prinsip keagamaan yang dimaksud adalah sebagaimana terkandung
dalam agama Islam. Pengembangan keislaman meliputi seluruh aspek
kehidupan, baik ideologi, politik, ekonomi, sosial dan kebudayaan; atau
mencakup dimensi akidah, ibadah dan muamalah duniawiyah. Terhadap
keseluruhan dimensi-dimensi keagamaan tersebut, Ikatan berjuang untuk
melahirkan prinsip-prinsip keseimbangan dan keutuhan, dengan tetap
memperhatikan potensi-potensi dasariah manusia, baik akliyah maupun
batiniyah. Bidang kemahasiswaan merupakan ruang sosial Ikatan yang akan
terus diperjuangkan. Dunia kemahasiswaan dilihat sebagai medan
perjuangan dan penyebaran nilai-nilai kritisme Islam, yakni bahwa Islam
menghendaki terjadinya ruang sosial atau tatanan yang menjamin keadilan
bagi semua pihak, maka Ikatan pun akan menjadi sisi penting dunia
kemahasiswaan sebagai kawasan sosial yang hanif, dimanis, kritis dan
toleran. Muara gerak Ikatan adalah dimaksudkan untuk melahirkan kekuatan
sosial mahasiswa yang bebas dari pengaruh sepihak kekuasaan dan apalagi
menjadi kepanjangan tangan dari kepentingan politik kekuasaan. Tetapi,
Ikatan akan terus menerus mendorong gerakan elemen sosial ke arah
pencerahan dan perbaikkan masyarakat secara luas. Sifat yang hanif dan
kritis adalah sandaran sosial Ikatan. Bidang Kemasyarakatan adalah
bidang gerak Ikatan yang terbuka, disebabkan bidang ini meliputi
bangunan ide sosial, elemen atau institusi sosial, sehingga
kekuatan-kekuatan sosial lainnya. Di dalam digambarkan coretan-coretan
beragam (mozaik) yang harus dihadapi secara waspada, cerdas dan
transformatif. Ikatan dalam memfungsikan kekuatan basis kader ditengah
masyarakat tersebut, melihat segi-segi kemanfaatkan bagi pengembangan
ide dan fungsionalisasi nilai-nilai dasar yang diyakininya, yakni
nilai-nilai dasar ajaran Islam yang bersumber dari Al Qur’an dan As
Sunnah. Nilai-nilai dasar ini diyakini memiliki kekuatan persahabatan
sosial dan melampaui intrik-intrik ideologi politik. Bidang
kemasyarakatan ini adalah wilayah terluas dan paling objektif bagi peran
Ikatan secara langsung. Pengembangan-pengembangan program
kemasyarakatan lebih diarahkan kepada pembentukan ikim sosial yang
kondusif bagi perbaikan, bimbingan dan kemaslahatan sosial.

Butir 2 berbunyi “Segala bentuk gerakan Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah tetap berlandaskan pada agama Islam yang hanif dan berkarakter rahmat bagi sekalian alam (rahmatan lil ‘alamin)”.

Identitas gerak Ikatan mengacu kepada sumber
jernih Al Qur’an dan As Sunnah, yakni ajaran yang mengajak kepada
kema’rufan dan mencegah segala bentuk kemungkaran. Terhadap berbagai
perbedaan sosial, Ikatan akan tetap menjadi kekuatan penyeimbang gagasan
dan memposisikan diri sebagai elemen yang independen dan tetap memegang
teguh prinip gerakan. Faktor ini menginspirasikan bahwa Ikatan bukanlah
gerakan yang monopolitik dan berorientasi kepada kepentingan politik
kekuasaan, sehingga basis-basis sosial yang se-ide dan sepaham merupakan
sahabat karib Ikatan dalam menuju terbentuknya iklim sosial yang hanif
dan dinamis. Terhadap gerakan sosial yang berbeda secara ide dan paham,
maka Ikatan memposisikan diri sebagai kekuatan oposisi dan penyeimbang
kritisme sosial. Hal ini dilakukan sebagai argumen bahwa Ikatan bukanlah
elemen gerakan mahasiswa yang tertutup bagi proses-proses sosial yang
dialogis dan kemungkinan tercapainya islah sosial sebagai perwujudan
dari nilai-nilai ajaran Islam, yakni kemuliaan dan kerahmatan bagi
sesama manusia, bukan menciptakan kesengsaraan dan kedholiman sosial.

Butir 3 berbunyi “Segala bentuk ketidakadilan, kesewenang-wenangan dan kemungkaran adalan lawan besar gerakan Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah, dan perlawanan terhadapnya adalah kewajiban bagi setiap kader Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah”.

Doktrin Islam berupa amar ma’ruf nahi mungkar
adalah dua kekuatan berlainan dan menjadi spirit perjuangan Ikatan.
Realitas masyarakat yang heterogen merupakan ladang terjadinya proses
benturan-benturan cara pandang dan gerakan, disamping secara potensial
juga dapat melahirkan kekuatan bersama yang kritis apabila terjalin
secara komunikatif dialogis. Terhadap yang pertama Ikatan bersikap
tegas, yakni bahwa kemungkaran dan ketidakadilan adalah lawan perjuangan
sosial. Boleh dikatakan, bahwa kelahiran Ikatan disamping sebagai
organisasi kader yang bertugas untuk melangsungkan proses regenerasi dan
kepemimpinan bangsa di masa depan, baik di Muhammadiyah maupun di
masyarakat secara lebih luas, kelahirannya juga dapat dilihat sebagai
kekuatan pembebas (libersionis) dari proses yang mengsengsarakan
umat/masyarakat. Ikatan merasa terpanggil untuk terlibat secara aktif
dalam usaha perbaikan dan bimbingan sosial tersebut.

Butir 4 berbunyi “Sebagai gerakan mahasiswa yang berdasarkan Islam dan beranggotakan individu-individu mukmin, maka kesadaran melaksanakan syari’at Islam adalah suatu kewajiban dan sekaligus mempunyai tanggung jawab untuk mendakwahkan kebenaran ditengah masyarakat”

Kader-kader Ikatan adalah individu-individu yang
beridentitas Islam, yakni beriman kepada Allah SWT, melaksanakan amar
ma’ruf nahi mungkar dan mengembangkan potensialitas diri, yakni dimensi
akliyah, perasaan/emosional dan dimensi spiritualnya melalui kegiatan
pendidikan dan pengembangan-pengembangannya. Keseluruhan potensi yang
diaktualkan tersebut dijadikan sebagai instrumen untuk mengantarkan
kepada pencapaian pelaksanaan prinsip-prinsip ajaran Islam di tengah
masyarakat secara lebih tepat dan berkesinambungan. Hubungan ini
menjadikan tugas kader-kader Ikatan menjadi penting dan mulia, karena
proses dakwah ditengah masyarakat adalah sesuatu kewajiban yang disadari
dan diyakini.

Butir 5 berbunyi “Kader Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah adalah kader inti sel masyarakat utama, yang selalu menyebarkan cita-cita kemerdekaan, kemuliaan dan kemaslahatan masyarakat, sesuai dengan semangat pembebasan dan pencerahan yang dilakukan Nabiyullah Muhammad SAW”.

Ikatan meyakini bahwa dirinya adalah bagian
terpenting bagi pembentukan masyarakat utama, yakni masyarakat yang
sejahtera lahir dan batin, materiil dan spirituil, serta diridhoi Allah
SWT. Oleh karena itu prinsip-prinsip kemerdekaan individu dan sosial,
tidak akan melepaskan diri dari aspek kemulian dan kemaslahatan
masyarakat. Ikatan tidak pernah mengutamakan salah satu dan
menghilangkan makna penting yang lain diantara peranperan individu
secara sosial maupun peran-peran sosial secara individu. Ikatan hanya
menentang sikap keseimbangan fungsi, yakni menentang sikap individu yang
tiranik sehingga merusak tatanan dan kemanfaatan sosial dan menentang
sikap sosial atau altruistisme yang membunuh peran-peran individu yang
dinamis, atau sikap sosila yang deteministik. Karena diyakini oleh
Ikatan bahwa Nabiyullah Muhammad SAW selalu melakukan pembebasan bagi
umatnya dari tindakan-tindakan tiranik dan sewenang-wenangan dan pada
saat bersamaan melakukan pencerahan-pencerahan sosial, yakni melalui
pendidikan batiniah dan lahiriah yang seimbang sebagai modal dasar
pembentukan masyarakat yang mulia dan utama.



http://immsetengahabad.xyz/web/keimman/nilaidasarikatan



Mars IMM:





I = G.2/4

Lagu : Mursjid

Syair : M. Diponegoro

Int : F G C B Am


F G CG C

C

Ayolah……ayo………ayo

Derap derukan langkah

F C

Dan kibarkan geleparkan panji – panji

G C E Am

Ikatan mahasiswa muhammadiyah

F G C G C

Sejarah umat telah menuntut bukti

Ingatlah ….. ingat….. ingat…..

Niat tlah di kibarkan

Kitalah cendikiawan berpribadi

Susila cakap takwa kepada tuhan

Pewaris tampuk pimpinan umat nanti

 

Immawan dan immawati

Siswa tauladan putra harapan

Penyambung hidup generasi

Umat Islam seribu jaman

Pendukung cita – cita luhur

Negri indah adil dan makmur


 





http://immsetengahabad.xyz/web/keimman/marsimm



Hymne IMM:

C

Berkat rahmat Illahi

F C

Melimpahi perjuangan kami

Dm G

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah

F G C

Ikhlas beramal dalam bakti

F Dm

Gemilang sinar surya

G C

Menerangi fajar harapan

F C Em Am

Jayalah IMM jaya …..a

F G F G C

Abadi perjuangan kami



http://immsetengahabad.xyz/web/keimman/hymneimm