Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Kisah Buya Ahmad Syafii Maarif dan PKI


Koran Sindo, Rabu, 4 Oktober 2017, h. 11




Kisah Buya Ahmad Syafii Maarif dan PKI




Ahmad Najib Burhani*





Beberapa
hari yang lalu penulis sebagai admin dari facebook-fanpage Muhammadiyah Studies memposting kutipan pernyataan Buya Ahmad
Syafii Maarif yang berbunyi, “
PKI yang sudah masuk
kuburan sejarah jangan dibongkar lagi untuk tujuan politik kekuasaan. Sungguh
tidak elok, sungguh tidak mendidik. Generasi baru Indonesia jangan lagi
diracuni oleh cara-cara berpolitik yang tidak beradab”
. Kutipan itu berasal dari
tulisan Buya sendiri di Republika, 18
Juli 2017. Postingan itu dibaca oleh lebih dari 140 ribu pengguna facebook dan
di-share oleh lebih dari 710 orang. Follower dari fanpage ini sebetulnya tak
terlalu banyak, sekitar 23 ribu, namun status itu mendapat respon beberapa kali
lipat dari jumlah pengikut fanpage itu sendiri. Sebelumnya, meme yang sama
telah dibagi lewat twitter oleh akun @biografly dan juga viral atau menjadi trending topic.





Kutipan
itu sebetulnya adalah sebuah nasehat dari orang tua dan guru bangsa yang pernah
hidup di zaman penjajah, Orde Lama, Orde Baru, dan juga Era Reformasi. Sebagai
simpatisan berat Masyumi, Buya adalah orang pernah mengalami hidup dalam
sengitnya pertarungan politik dan sosial antara PKI (Partai Komunis Indonesia)
dan Partai-partai Islam. Karena itu ia juga pernah menjadi penentang keras PKI
dan bahkan menyebut masa lalunya sebagai “fundamentalis” dan bagian dari
kelompok “garis keras” (Maarif 2009). Hal yang sangat mengejutkan dari postingan
tersebut adalah berbagai komentar dan respon yang muncul.





Ada
yang mengecam Buya dengan beragam istilah yang sangat kasar, ada yang mengutuk
dan melaknat, dan ada juga yang menuntut kepada Muhammadiyah untuk bersikap
terhadap Buya. Beberapa diantaranya perlu disebutkan di sini untuk melihat
seperti apa ekspresi orang terhadap tokoh sekaliber Buya yang memberikan
nasehat tentang sejarah Indonesia. Mulai dari sebutan “orang tua gila”,
“pembela penista”, “si tua”, “sudah bau tanah”, “kecebong”, “koplaxx”, “antek”,
“tai kucing”, “semakin tua semakin sesat”, “si pikun utek liberal”, “kerak
neraka”, “cari makan”, “dasar orang tua… tobat orang tua”, “semakin tua semakin
kehilangan akal”, “agen PKI kedok ulama”, “intelek kok guoblok”, “ulama syu’”, “berbicaranya
lantang, tapi telinganya tuli, pandanganya buta”, dan juga sebutan yang sudah
sering dialamatkan kepadanya, yakni “liberal”.





Sementara
mereka yang menuntut agar Muhammadiyah menghukum Buya menyebutkan bahwa Buya
adalah “tokoh Muhammadiyah paling mengecewakan”, “mamalukan Muhammadiyah”, dan
orang yang tidak bisa menjaga diri, terutama terkait dengan “mulutnya tidak
beradab”. Permintaan kepada pimpinan Muhammadiyah juga berupa peninjauan “keberadaan
Syafii Maarif di lingkaran para tokoh muhammadiyah” dengan alawan bahwa
opininya “lebih sering menyesatkan umat”. Tuntutan pribadi yang agak ringan
adalah meminta agar Buya bertobat, atau meminta orang lain agar tak lagi
memanggilnya buya karena tak pantas lagi dengan sebutan itu, atau meminta Buya
sekolah lagi biar pintar. Ada juga yang berdoa agar Buya mendapat hidayah dan
dijauhkan dari virus pluralisme atau berdoa agar Buya husnul khatimah.





Tentu
saja ada yang mencoba mendudukkan persoalan dengan melihat dan membaca secara
seksama kalimat-kalimat yang disampaikan Buya itu dan meminta jangan saling
kecam serta menjaga tatakrama terhadap orang tua. Dukungan, pembelaan, pujian
dan doa agar Buya diberi kesehatan dan panjang umur juga bisa ditemukan dalam
berbagai komentar.





Berkaitan
dengan fanpage itu sendiri, ada sejumlah follower (sekitar 30 orang) yang lantas
keluar atau memblokir fanpage tersebut. Ada yang mengancam admin agar tidak
bertindak macam-macam. Ada yang menuduhnya liberal, bagian dari JIMM, corong
Buya atau “antek syafii”, dan bahkan ada menganggap fanpage itu sebagai
infiltrasi dari NU (Nahdlatul Ulama) untuk memecah Muhammadiyah. Namun tampaknya
jumlah yang keluar dan memblokir itu sebetulnya jauh lebih kecil daripada
jumlah yang menjadi follower baru. Ini bisa dilihat dari jumlah follower yang
mengalami kenaikan cukup banyak dibandingkan dengan sebelum adanya posting itu.
Mengambil sikap atau keberpihakan dalam kasus-kasus yang membelah masyarakat
itu memang bisa menaikkan jumlah followers atau likers. Ini yang membuat
sebagian aktivis sosial media menikmati sikapnya yang sektarian.





Kasus
seperti ini sudah kesekian kali terjadi. Sebelumnya kontroversi yang heboh
terjadi ketika memasang foto Joko Widodo mengimami sholat warga Muhammadiyah.
Kemudian, kontroversi kembali ramai ketika posting “Muhammadiyah garis lucu”
keluar. Bagi Buya sendiri, ini tentu bukan pertama kalinya mendapat bully
sedemikian rupa. Ketika Buya menulis beberapa artikel terkait Ahok (Basuki
Tjahaja Purnama), ia juga mendapat bully
dari banyak orang, Muhammadiyah dan non-Muhammadiyah.





Apa
yang bisa dipelajari dari fenomena ini? Pertama, mereka yang berkomentar jahat
terhadap Buya itu kemungkinan besar tidak membaca secara utuh tiga tulisan
pendeknya tentang PKI di Republika yang
berjudul “Isu kebangkitan PKI jadi ritual tahunan” (26/9), “PKI dan kuburan
sejarah (1)” (11/7), dan “PKI dan kuburan sejarah (2)” (18/7). Jika mereka
membaca dan mencoba memahami, maka akan didapati kesimpulan yang sama sekali
berbalik dari tuduhan bahwa Buya sedang membela PKI. Di beberapa bagian dari
artikel itu Buya dengan jelas menunjukkan kekejaman PKI dan watak komunisme
yang anti-demokrasi dan antikemanusiaan. Buya menegaskan bahwa “rezim komunis
tidak pernah ramah kepada kemanusiaan”.





Kedua,
mereka yang mem-bully Buya itu hanya melihat kalimat atau kutipan yang dipakai
sebagai meme. Kalimat yang merupakan pesan akhir Buya di artikel “PKI dan
kuburan sejarah (2)” itu sebetulnya juga memberi keterangan tentang penggunaan
isu PKI untuk “tujuan politik kekuasaan”. Sayangnya, kata-kata itu juga tidak
diperhatikan. Seandainya yang dikutip dan dibuat meme adalah kalimat “komunisme
itu anti-demokrasi dan antikemanusiaan” dan “rezim komunis tidak pernah ramah
kepada kemanusiaan”, maka bisa saja ini dipakai sebagi dukungan bagi kelompok
yang saat ini mengungkit-ungkit isu PKI untuk tujuan politik. Namun mereka yang
sudah benci dan antipati terhadap Buya bisa jadi tak mau melihat itu juga.
Mereka sudah benti dan memandang negatif terhadap Buya, apapun yang ia katakan.
Ini terlihat dari komentar yang selalu mengaitkan Buya dengan sikapnya terhadap
isu Ahok beberapa waktu lalu.





Ketiga,
seperti ditulis Merlyna Lim (2017), apa yang dialami Buya adalah contoh dari post-truth politics, dimana kebenaran
itu bukan sesuatu yang pertama dan utama. Meski PKI itu sudah tidak ada, namun
ketika ia dijual lagi dengan kemasan baru untuk menakut-nakuti rakyat dan
dipromosikan sedemikian rupa, maka ia akan terjual juga. Branding baru tentang
bahaya PKI dibuat dan di-viralkan. Orang jujur seperti Buya yang dengan
baik-baik memberi nasehat lantas di-bully. Sosial media yang pada awalnya
disanjung sebagai arena freedom of
expression
ternyata memiliki efek negatif seperti menurunnya kualitas
informasi dan naiknya kebencian terhadap mereka yang berbeda. Upaya tabayyun (merefleksikan dan konfirmasi)
terhadap perbedaan dan pertentangan juga sering hilang karena di dunia orang
lebih sering bergerombol dengan yang seide (algorithmic
enclaves
) dan mematikan atau memutus hubungan dengan mereka yang berbeda
pandangan.


-oo0oo-







*Wakil Ketua Majelis Pustaka dan
Informasi PP Muhammadiyah; Peneliti LIPI



http://koran-sindo.com/page/news/2017-10-04/1/0/Buya_Ahmad_Syafii_Maarif_dan_PKI