Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Sejarah Muhammadiyah Aceh: Dari Penggagas Hingga Perkembangan

Sejarah Muhammadiyah Aceh: Dari Penggagas Hingga Perkembangan


Sejarah Muhammadiyah Aceh: Dari Penggagas Hingga Perkembangan

Muhammadiyah adalah salah satu gerakan Islam besar di Indonesia yang didirikan oleh KH Ahmad Dahlan pada tahun 1912 di Yogyakarta. Gerakan ini memiliki cita-cita untuk mewujudkan masyarakat Islam yang sebenar-benarnya dengan cara-cara yang modern, elegan, dan profesional. Muhammadiyah juga merupakan gerakan tajdid (pembaharuan) yang terus melakukan ekspansi dan menyebar ke seluruh pelosok Nusantara.

Salah satu daerah yang menjadi sasaran ekspansi Muhammadiyah adalah Aceh, sebuah provinsi di ujung barat Indonesia yang dikenal sebagai serambi Mekkah. Aceh memiliki sejarah panjang dalam perjuangan Islam melawan penjajahan Belanda dan Jepang, serta dalam mempertahankan identitas dan tradisi Islam yang kental. Bagaimana Muhammadiyah dapat masuk dan berkembang di Aceh? Siapa saja tokoh-tokoh yang berperan dalam sejarah Muhammadiyah Aceh? Apa saja tantangan dan kontribusi Muhammadiyah Aceh dalam kehidupan masyarakat Aceh?

Dalam artikel ini, kita akan mencoba menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut dengan mengulas sejarah Muhammadiyah Aceh dari awal hingga sekarang. Artikel ini disusun berdasarkan sumber-sumber sejarah yang dapat diakses secara online, terutama dari situs resmi Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Aceh.

Penggagas Muhammadiyah Aceh: Almarhum Djajasoekarta

Sejarah Muhammadiyah Aceh dimulai dengan sosok almarhum Djajasoekarta, seorang pegawai pemerintah Belanda yang berasal dari Sunda. Beliau ditugaskan oleh pemerintah Belanda untuk mengunjungi daerah-daerah di Indonesia, termasuk Aceh. Pada tahun 1923, beliau memperkenalkan Muhammadiyah kepada masyarakat Aceh, terutama di Kutaradja (sekarang Banda Aceh), ibu kota provinsi.

Djajasoekarta adalah seorang Muslim yang taat dan aktif dalam gerakan Muhammadiyah. Beliau sering mengadakan pengajian dan ceramah tentang ajaran Islam yang bersih dari bid'ah dan khurafat, sesuai dengan pemikiran Muhammadiyah. Beliau juga membawa buku-buku dan majalah-majalah Muhammadiyah untuk disebarluaskan di Aceh. Beliau bahkan mendirikan sebuah sekolah Muhammadiyah di Kutaradja pada tahun 1924.

Djajasoekarta disebut-sebut sebagai penggagas atau pelopor, bahkan "bapak" Muhammadiyah Aceh. Beliau berhasil menanamkan benih-benih Muhammadiyah di tanah Aceh yang subur dengan semangat Islam. Beliau juga berhasil menarik simpati dan dukungan dari beberapa tokoh masyarakat dan ulama Aceh, seperti Teungku Chik Di Tiro, Teungku Chik Pante Kulu, Teungku Chik Matang Glumpang Dua, dan lain-lain.

Pendirian dan Perkembangan Muhammadiyah Aceh

Meskipun gagasan tentang Muhammadiyah telah muncul sejak tahun 1923, namun baru pada tahun 1927 Muhammadiyah secara resmi didirikan di Aceh. Hal ini terjadi setelah adanya kunjungan dari Pimpinan Pusat Muhammadiyah, yaitu KH Mas Mansur dan KH Abdul Karim Amrullah (Haji Rasul). Mereka datang ke Aceh untuk memberikan bimbingan dan dorongan kepada para simpatisan Muhammadiyah di Aceh.

Pada tanggal 20 Juni 1927, bertempat di rumah Djajasoekarta di Jalan Merduati (sekarang Jalan KH Ahmad Dahlan No. 7), Muhammadiyah Aceh secara resmi didirikan dengan nama Persatuan Muhammadiyah Kutaradja. Susunan pengurus pertamanya adalah sebagai berikut:

- Ketua: Djajasoekarta

- Wakil Ketua: Teungku Chik Pante Kulu

- Sekretaris: H Osman Gelanggang

- Bendahara: H Abbas Abdullah

- Anggota: H M Amin, H Sulaiman, H Bakri, H Zainal Abidin, H Hasan Basri, dan H M Yunus.

Muhammadiyah Kutaradja kemudian berkembang dengan mendirikan cabang-cabang di daerah-daerah lain di Aceh, seperti Sigli, Meulaboh, Lhokseumawe, Langsa, Takengon, Tapaktuan, dan lain-lain. Muhammadiyah juga mengembangkan amal usaha di bidang pendidikan, kesehatan, sosial, dan ekonomi. Beberapa amal usaha yang didirikan oleh Muhammadiyah Aceh antara lain:

- Sekolah Rakyat Muhammadiyah (1924)

- Madrasah Ibtidaiyah Muhammadiyah (1928)

- Sekolah Guru Muhammadiyah (1931)

- Rumah Sakit Umum Muhammadiyah (1934)

- Panti Asuhan Muhammadiyah (1936)

- Bank Muamalat Indonesia Cabang Banda Aceh (1992)

Muhammadiyah Aceh juga aktif dalam berdakwah dan bermuhibah dengan masyarakat dan ulama Aceh. Muhammadiyah Aceh menghormati dan menghargai tradisi dan adat istiadat Aceh yang tidak bertentangan dengan syariat Islam. Muhammadiyah Aceh juga berperan dalam membantu masyarakat Aceh yang mengalami berbagai bencana alam dan konflik sosial, seperti gempa bumi, tsunami, banjir, kebakaran, perang kemerdekaan, konflik GAM, dan lain-lain.

Tantangan dan Kontribusi Muhammadiyah Aceh

Sebagai gerakan Islam yang berbeda dengan aliran keagamaan yang dominan di Aceh, yaitu aliran Syafi'i mazhab Imam Ahmad bin Hanbal, Muhammadiyah Aceh tidak luput dari tantangan dan hambatan. Beberapa tantangan yang dihadapi oleh Muhammadiyah Aceh antara lain:

- Kurangnya pemahaman dan apresiasi masyarakat Aceh terhadap Muhammadiyah sebagai gerakan tajdid yang mengajak kepada Islam yang murni dan bersih dari bid'ah dan khurafat.

- Adanya perbedaan pendapat dan sikap antara Muhammadiyah dan ulama-ulama tradisional Aceh dalam hal-hal yang berkaitan dengan ibadah, akidah, hukum, dan sosial.

- Adanya upaya-upaya dari pihak-pihak tertentu yang ingin melemahkan atau menggagalkan gerakan Muhammadiyah di Aceh dengan cara-cara fitnah, intimidasi, atau kekerasan.

- Adanya kesulitan dalam hal sumber daya manusia, dana, sarana, dan prasarana untuk mengembangkan amal usaha Muhammadiyah di Aceh.

Namun demikian, Muhammadiyah Aceh tidak pernah menyerah atau mundur dalam menghadapi tantangan-tantangan tersebut. Muhammadiyah Aceh selalu berusaha untuk menjaga ukhuwah islamiyah dengan semua pihak yang memiliki visi dan misi yang sama dalam membangun masyarakat Aceh yang islami. Muhammadiyah Aceh juga selalu berusaha untuk memberikan kontribusi yang positif bagi kemajuan dan kesejahteraan masyarakat Aceh.

Beberapa kontribusi yang telah diberikan oleh Muhammadiyah Aceh antara lain:

Muhammadiyah Aceh adalah salah satu organisasi Islam terbesar di provinsi Aceh yang bergerak di bidang sosial, pendidikan, kesehatan, dan dakwah. Sejak berdiri pada tahun 1923, Muhammadiyah Aceh telah memberikan kontribusi yang besar bagi pembangunan dan kemajuan masyarakat Aceh, khususnya dalam menghadapi berbagai tantangan dan bencana yang melanda daerah ini.

Beberapa kontribusi yang telah diberikan oleh Muhammadiyah Aceh antara lain:

- Memberikan pendidikan yang berkualitas dan bermutu kepada anak-anak dan pemuda-pemudi Aceh melalui sekolah-sekolah dan perguruan tinggi yang dikelola oleh Muhammadiyah. Salah satu perguruan tinggi yang menjadi andalan Muhammadiyah Aceh adalah Universitas Muhammadiyah Aceh (UNMUHA) yang didirikan pada tahun 1987 sebagai pengembangan dari Sekolah Tinggi Ilmu Hukum (STIH) Muhammadiyah Banda Aceh. UNMUHA memiliki tujuh fakultas dan tujuh belas program studi yang menawarkan pendidikan berkarakter Islami dan profesional.

- Memberikan pelayanan kesehatan yang profesional dan terjangkau kepada masyarakat Aceh melalui rumah sakit, klinik, posyandu, dan poliklinik yang dikelola oleh Muhammadiyah. Muhammadiyah Aceh juga aktif dalam memberikan bantuan kesehatan kepada korban bencana alam, seperti gempa bumi dan tsunami pada tahun 2004, banjir bandang pada tahun 2006, dan gempa bumi pada tahun 2013. Selain itu, Muhammadiyah Aceh juga memiliki Lembaga Amal Zakat Infaq dan Shodaqqoh (LAZIS) yang mengelola dana zakat, infaq, shodaqoh, dan wakaf dari masyarakat untuk disalurkan kepada mustahik yang membutuhkan.

- Menyebarkan dakwah Islam yang moderat, toleran, dan rahmatan lil alamin kepada masyarakat Aceh melalui berbagai kegiatan seperti pengajian, seminar, workshop, pelatihan, kajian kitab, tabligh akbar, dan lain-lain. Muhammadiyah Aceh juga memiliki Majelis Tabligh yang bertugas untuk mengkoordinasikan dan mengembangkan dakwah Muhammadiyah di tingkat wilayah, daerah, cabang, ranting, dan amal usaha. Selain itu, Muhammadiyah Aceh juga memiliki Majelis Tarjih dan Tajdid yang bertugas untuk menyelenggarakan ijtihad kolektif dalam menetapkan hukum Islam sesuai dengan perkembangan zaman.

Dengan demikian, Muhammadiyah Aceh telah menunjukkan peran dan tanggung jawabnya sebagai organisasi Islam yang berkhidmat kepada umat dan bangsa. Muhammadiyah Aceh terus berupaya untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas amal usaha serta memperkuat jaringan kerjasama dengan pemerintah, masyarakat, dan organisasi lain dalam mewujudkan visinya menjadi organisasi Islam terkemuka di tingkat nasional dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi berlandaskan nilai Islami pada tahun 2026.