Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Jenderal Soedirman, Anak Kandung Muhammadiyah




Jenderal Soedirman, Anak Kandung Muhammadiyah


Panglima Soedirman merupakan kader murni Hizbul Wathan dan Pemuda Muhammadiyah

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Wahyu Suryana

Panglima Besar Soedirman dan Muhammadiyah memang begitu lekat. Ketua Umum PP Muhammadiyah Dr Haedar Nashir bahkan menyebutnya sebagai anak kandung dari Muhammadiyah.

Salah satu alasan terkuatnya jelas karena Soedirman merupakan kader murni Hizbul Wathan dan Pemuda Muhammadiyah. Bahkan, Soedirman ikut membina kader-kader Hizbul Wathan dalam bela dan cinta Tanah Air.

Hizbul Wathan merupakan gerakan kepaduan cinta Tanah Air yang lahir sejak 1918. Artinya, ketika kalangan umat Islam kala itu belum mengenal pergerakan organisasi cinta Tanah Air dan kepanduan, Muhammadiyah sudah melahirkannya.

Di Hizbul Wathan, sosok jenderal berbintang lima itu termasuk pembina sekaligus aktivis. Dari sini, terdapat benang merah Soedirman memang lahir dari rahim pergerakan Muhammadiyah.

Soedirman sejak kecil memang hidup di lingkungan, keluarga, dan kader Muhammadiyah sejak di Cilacap. Karena itu, sosoknya memang sudah ada di dalam didikan sekolah mengaji metode Quran.

Madrasah diniyah jadi cara paling mudah memahami bentuk lembaga pendidikan yang menempa Soedirman tersebut. Sejak usia sangat muda, Soedirman menyerap dan mengaji di lembaga Muhammadiyah tersebut.

"Dari dua hal itu bisa kita simpulkan betapa kentalnya kaderisasi dan ideologi Muhammadiyah di dalam diri Soedirman," kata Haedar saat ditemui di kediamannya di Bantul, Jumat (11/1).


Riwayat Hidup Jenderal Soedirman



Haedar melihat, Soedirman begitu memahami betul nilai-nilai pergerakan Islam Muhammadiyah itu. Sampai suatu saat beliau membawa sekelompok calon kader Hizbul Wathan ke Batu Raden, daerah pegunungan Wonosobo.

Di tengah suasana malam yang sangat dingin, Soedirman menggembleng anak-anak calon kader dan aktivis Hizbul Wathan itu. Tujuannya tidak lain agar mereka menyadari betapa kecilnya manusia di hadapan Tuhan YME.

Lalu, pemuda-pemuda itu harus menjadi orang yang mau berkorban untuk kepentingan umat dan bangsa. Proses pergumulan sejarah yang kental itu membuat Soedirman betul-betul memiliki karakter kuat.

Pertama, sebagai orang yang saleh dan zuhud. Kedua, kesalehan dan kezuhudan itu melahirkan pribadi yang kokoh pendirian, kuat prinsip, dan berani. Ketiga, sikap berani berkorban untuk kepentingan umat, bangsa, dan negara melebihi dirinya.

Ini bisa dilihat ketika Soedirman memimpin perang gerilya kala dirinya sendiri sakit. Menurut Haedar, nilai-nilai luhur inilah yang menjadi kekuatan Soedirman dan para tokoh pergerakan Indonesia.

"Yang harus dijadikan rujukan nilai, bahkan menjadi role model generasi muda saat ini maupun para elite dan warga bangsa yang boleh jadi mengalami peluruhan nilai dari jiwa, pikiran dan cita-cita perjuangan para pendiri republik ini," ujar Haedar menegaskan.

Selain itu, bisa juga dipelajari bagaimana Soedirman menggerakkan rakyat. Jadi, sosoknya memang sangat layak menjadi panglima besar, pendiri TNI, dan teladan dalam perjuangan kemerdekaan.

Sebab, di usia muda saja, Soedirman sudah terpilih menjadi panglima perang karena kejujuran dan karakter kuatnya. Ini terbukti dari Soedirman yang selalu dipercaya dan menggerakkan orang banyak, bukan karena sifat-sifat kekuasaan.

Muhammadiyah, lanjut Haedar, betul-betul menjadi bagian dari pergerakan nasional yang Soedirman lakukan. Jadi, ketika perang gerilya, para tokoh Muhammadiyah di Yogyakarta menggerakkan Angkatan Perang Sabil (APS).

APS, di DIY sampai Jawa Tengah, memobilisasi massa perlawanan terhadap penjajah yang kembali melakukan agresi ingin menancapkan kekuasaan. Jadi, kolaborasi Soedirman sebagai kader dan Muhammadiyah kuat sekali untuk bangsa dan negara.

Tidak mengherankan jika APS menjadi kekuatan militer Islam saat itu yang memang masif dan dicintai rakyat. Dari sini bisa dilihat, jika tanpa perang gerilya saat itu, mungkin Indonesia sudah selesai karena pemerintahan jatuh.

Lalu, ada pemerintah darurat oleh Syafruddin Prawiranegara, atas persetujuan Bung Karno dan Bung Hatta. Namun, secara fisik, perlawanan Soedirman, seluruh kekuatan rakyat, termasuk APS di Yogya, jadi sinyal kuat kepada dunia.

"Sinyal kalau kedaulatan politik, kedaulatan Pemerintah Indonesia, masih eksis, di situlah Soedirman dan tokoh-tokoh Muhammadiyah menjadi martir bagi perjuangan kemerdekaan Indonesia," kata Haedar.






Muatan Nasionalisme

Di Muhammadiyah, muatan nasionalisme sendiri memiliki dua bentuk. Pertama, secara langsung memang melahirkan cinta dan bela Tanah Air untuk perjuangan kemerdekaan, termasuk mendirikan Hizbul Wathan dan Angkatan Perang Sabil.

Perjuangan fisik seperti yang dilakukan Soedirman menjadi contoh lain. Kedua, muatan nasionalisme di Muhammadiyah bersifat jangka panjang, yaitu investasi kemerdekaan Indonesia dengan membangun pranata-pranata sosial baru.

Tentunya, yang cocok dengan zaman dan modern, seperti pendidikan, pelayanan kesehatan, gerakan kepemudaan, gerakan keperempuanan Aisyiyah. Semuanya jadi pilar strategis yang setelah Indonesia merdeka miliki posisi sangat penting.

Muhammadiyah, oleh Soekarno, disebut melakukan modernisasi bangsa Indonesia yang menjadi kunci kebangunan. Dua sisi itu menjadi kekuatan strategis kehidupan bangsa yang banyak orang menyebutnya sebagai nasionalisme Muhammadiyah.




Jenderal Soedirman (kiri) dipeluk oleh Presiden Soekarno semasa kepulangannya di Yogyakarta.


Dalam sejarah dapat dilihat ketika Ki Bagus Hadikusumo dan Kasman Singodimedjo menjadi titik penentu meredam ketegangan soal Piagam Jakarta. Demi bangsa dan negara, kompromi terjadi, tujuh kata dicoret dan ketuhanan jadi sila pertama.

Ini bentuk nasionalisme Islam yang ditunjukkan Muhammadiyah dan para tokohnya. Demi bangsa dan negara, umat yang mayoritas itu mengalah, berkorban, yang oleh Alamsyah Ratu Perwiranegara disebut hadiah terbesar umat Islam untuk Indonesia. "Jejak ini tidak boleh diabaikan karena jejak inilah yang menjadi kunci dari titik temu keindonesiaan dan keislaman," ujar Haedar.

Bila saja saat itu buntu, tidak bisa dibayangkan Indonesia yang baru satu hari diproklamasikan akan berdiri tegak pada 18 Agustus 1945. Atau sebaliknya, jika umat Islam kala itu otoriter memakai kemayoritasannya.

Inilah tiga dimensi perjuangan Muhammadiyah bersama kekuatan Islam yang lain. Perjuangan fisik, membangun pranata sosial modern untuk Indonesia selepas merdeka, dan peran politik kebangsaan yang sepenuhnya untuk keutuhan NKRI.





Terpisah Zaman, Meneruskan Perjuangan

Sayangnya, Soedirman yang lahir pada 24 Januari 1916 memang tidak memiliki kesempatan bertemu Kiai Ahmad Dahlan yang wafat pada 1923. Sebab, Kiai Dahlan wafat saat Soedirman baru berumur tujuh tahun di Banyumas.

Tetapi, di Cilacap, Soedirman tumbuh menjadi seorang siswa rajin. Soedirman sangat aktif dalam kegiatan ekstrakurikuler, termasuk mengikuti kepanduan Hizbul Wathan Muhammadiyah.

Saat di sekolah menengah, Soedirman mulai menunjukkan kemampuannya memimpin, berorganisasi, dan ketaatannya kepada Islam dihormati masyarakat. Usai berhenti kuliah keguruan, pada 1936, ia mulai bekerja sebagai seorang guru.

Setelah itu, Soedirman menjadi kepala sekolah. Di sekolah Muhammadiyah, ia juga aktif dalam kegiatan Muhammadiyah lainnya, dan menjadi pemimpin kelompok dari Pemuda Muhammadiyah pada 1937.

"Tapi, lewat Hizbul Wathan sesungguhnya Soedirman merasakan nilai-nilai kemuhammadiyahan tentang cinta Tanah Air, dan Hizbul Wathan itu yang mendirikan langsung Kiai Dahlan," kata Haedar.

Itu berarti, jika Kiai Dahlan merupakan pendiri Hizbul Wathan, Soedirman jadi pelaksana, penerus dan yang memobilisasi kekuatannya. Secara umum, Hizbul Wathan jadi komponen sangat penting yang membentuk karakter Soedirman.

Muhammadiyah sendiri membangun karakter pertama dari substansi. Orang Islam harus kuat pendirian, tapi berkemajuan. Kuat pendirian akidah, ibadah, dan prinsip-prinsip akhlak yang tidak boleh berkompromi yang meluluhkan karakter.

Lalu, nilai kemajuan jadi sangat penting ditanamkan sehingga cinta ilmu dan kecerdasan jadi bagian penting. Ketiga, amaliyah perbuatan, karena Muhammadiyah membangun karakter warganya agar beramal dan berbuat yang terbaik.

Dengan al-Maun, peran-peran filantropi, peran-peran sosial, sehingga Islam menyatu menjadi karakter yang mencerminkan perpaduan iman, ilmu, dan amal. Lalu, media yang dibangun melembaga, yaitu lewat keluarga, pendidikan, dan organisasi.

Sehingga, bisa dilihat, bagaimana Muhammadiyah melahirkan Soedirman, Kasman, Kahar Mudzakkir, Hamka, bahkan Juanda yang empat kali jadi menteri, satu kali jadi perdana menteri, dan perumus Deklarasi Juanda.

"Coba bayangkan hal-hal seperti ini tumbuh bagi generasi muda saat ini, tanpa harus sama dan sebangun, tapi kuat pendirian, menjaga akhlak, berpikiran cerdas dan maju, itulah karakter yang dibangun Muhammadiyah," ujar Haedar.

Untuk itu, ia menekankan, jangan mudah melihat warga Muhammadiyah yang memiliki tiga karakter itu, dengan parameter cinta Tanah Air yang terlalu verbal. Misal, mengkritik keadaan bangsa yang kurang tepat dianggap antinegara dan sebagainya.

Padahal, Muhammadiyah mencoba seimbang, dan itu menjadi karakter para warga dan pimpinan Muhammadiyah. Tentu, kritik didasarkan argumen dan data yang kuat, dan disampaikan dengan cara yang sesuai kepribadian Muhammadiyah. n ed: stevy maradona

https://republika.co.id/berita/selarung/suluh/19/01/24/pltyen282-jenderal-soedirman-anak-kandung-muhammadiyah